Pergeseran T I P O L O G I Hunian Dalam Masyarakat

On: October 10, 2008

Maraknya bermunculan kompleks-kompleks perumahan masyarakat yang didirikan secara massal dan dalam jumlah yang besar secara langsung maupun tidak telah menyebabkan berubahnya sistem kekerabatan pada masyarakat yang mendiaminya. Hal ini juga menyebabkan telah berubahnya tipologi hunian masyarakat Indonesia kearah yang lebih universal dan tidak mencerminkan lagi khasanah kehidupan masyarakat Indonesia yang sudah menjadi ciri khas masyarakat kita dari dahulunya.

Tidak hanya pada kota-kota besar, gaung perumahan-perumahan massal (seperti proyek perumnas, KPR BTN dan lain sebagainya) tanpa kita sadari telah menjadi sebuah warna baru dalam tipologi hunian masyarakat kita dewasa ini. Apakah ini merupakan jawaban atas semakin meningkatnya angka kebutuhan masyarakat akan sarana hunian atau malah merupakan dampak yang diakibatkan dari kesalahan dari kebijakan pemerintah yang kurang tepat dalam menerapkan sistem top down dalam menyelesaikan permasalahan perumahan di Indonesia, atau hal ini merupakan jawaban dari pihak pengembang yang salah menafsirkan fenomena-fenomena yang berkembang pada masyarakat kita sekarang dewasa ini.

Landasan Teoritis
TIPOLOGI dalam arsitektur menurut Guilio Carlo Argan adalah sebuah konsepsi sekaligus suatu metode dalam mengidentifikasi tipe dan karakteristik bentuk arsitektur, mengklasifikasi dan mengelompokkan serta mengidentifikasi perkembangan suatu bentuk dan tipe dalam arsitektur.

Dalam arsitektur tipologi dilihat berdasarkan sejarah dan budaya masyarakat sebagai salah satu aspek pengarah, adanya nilai-nilai formal serta berdasarkan pada komposisi. Sehingga tipologi arsitektur menggolongkan karakteristik utama dari arsitektur bukan sebagai produk masa lampau tetapi dapat dimodifikasi dan dieksplorasi bentuk-bentuknya dan tidak mengacaukan fungsi dari bentukan tersebut. Studi tentang tipe dalam arsitektur bukan pada metode desain tetapi sebagai konsep dari tipe bentuk.

Ketika seorang arsitek berusaha untuk menyatukan tradisi kepada suatu bentuk arsitektur modern, pada dasarnya yang mereka lakukan itu adalah mencoba untuk menginterpretasikan atau memahami kembali masa lalu ke masa depan. Pada dasarnya ada 3 cara penyatuan tersebut, yaitu:
1.Mengadopsi elemen-elemen bentuk tradisonal pada bentuk modern
2.Mentransfer sifat dan cara bagaimana mereka terbentuk untuk menciptakan bentuk-bentuk yang baru
3.Mencoba merenungkan esensi dari tradisi serta memahami kembali untuk menuju kepada bentuk arsitektur modern. (Hatmoko dan Djokomono,1999).

Berdasarkan pada teori Noberg Schulz yang mengatakan bahwa secara visual elemen lingkungan mempunyai keterpaduan yang jelas atas semangat atau kekuatan suatu tempat yang berorientasi pada lingkungan lokal. Kekuatan tersebut terbagi atas kekuatan dari dalam dan kekuatan dari luar yang membentuk identitas masyarakat tersebut. Karakteristik suatu tempat bukan hanya sekedar mewadahi kegiatan fungsional secara statis melainkan menyerap dan menghasilkan makna sebagai kekhasan suatu tempat atau wilayah.

Tipologi Hunian Pada Masyarakat Minangkabau
Pada masyarakat Minangkabau khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya, sebuah rumah merupakan wadah yang digunakan untuk hidup dan fasilitas untuk bersosialisasi dengan masyarakat disekitarnya. Begitu juga dengan rumah gadang, semua aktifitas keseharian masyarakat dilakukan disini, dimulai dari hunian sebagai tempat tinggal, makan, tidur, tempat untuk membesarkan anak-anak serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan adat dan keagamaan sebagai ajang untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya.

Secara umum, tipologi dari fasilitas hunian masyarakat Minangkabau dapat kita lihat pada nilai-nilai serta elemen-elemen yang terdapat bagian dalam maupun luar dari fasilitas hunian tersebut, diantaranya adalah:
1.Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang hidup secara komunal atau berkelompok, serta memiliki ikatan kekerabatan yang kuat. Hal ini tercermin dari terdapatnya open space atau ruang terbuka yang terdapat pada setiap kelompok atau group fasilitas hunian mereka yang merupakan wadah untuk tempat bersosialisasi bagi masyarakatnya.
2.Terdapatnya hirarki-hirarki ruang yang jelas yang terdapat pada fasilitas hunian mereka tersebut, hal ini tidak tertutup pada bangunan rumah gadang saja, tetapi hal ini masih dapat kita temukan pada rumah-rumah non rumah gadang yang terdapat di Minangkabau. Salah satunya adalah masih ditemukannya ruang-ruang lepas dan besar pada bagian-bagian rumah masyarakat yang tidak rumah gadang, yang berfungsi sebagai wadah untuk melangsungkan acara-acara adat seperti perkawinan dan acara kematian pada keluarga tersebut. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini, yang menggambarkan dengan jelas hirarki-hirarki ruang dalam pada suatu rumah gadang.


Dalam tulisannya Amos Rapoport menegaskan bahwasanya bangunan sebuah rumah (tempat tinggal) merupakan sebuah fenomena budaya yang bentuk dan organisasi ruangnya sangat dipengaruhi oleh “cultural milieu” dari etnis tertentu sebagai pemiliknya, begitupun halnya dengan rumah pada masyarakat minangkabau. Sebuah Rumah Gadang, bukanlah hanya merupakan suatu bangunan besar, panjang dan tinggi menjulang, tetapi adalah sebuah bangunan rumah adat yang bagian luar dan dalamnya mengandung arti dan makna tersendiri yang secara keseluruhan merupakan cerminan dari sistem kekerabatan matrilinial yang dianut oleh masyarakat minangkabau.

Dewasa ini, secara kuantitas memang terdapat penurunan yang drastis terhadap masyarakat Minangkabau yang masih menggunakan rumah gadang sebagai fasilitas hunian mereka. Berdasarkan kepada kepada hasil temuan dilapangan, pada beberapa daerah di Minangkabau dapat diketahui beberapa alasan mengapa rumah gadang sudah tidak digunakan lagi sebagai fasilitas hunian mereka. Beberapa alasan mengapa masyarakat tidak menggunakan lagi rumah gadang sebagai fasilitas hunian mereka diantaranya adalah:
1.Rumah gadang sudah tidak mampu lagi mengakomodasikan semua kebutuhan mereka yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan waktu dan zaman.
2.Bertambahnya jumlah anggota keluarga yang tidak memungkinkan lagi semua anggota keluarga untuk tetap tinggal pada satu rumah secara bersama, yaitu rumah gadang.
3.Keterbatasan tanah atau lahan yang akan dijadikan sebagai lokasi tempat untuk pendirian rumah gadang yang baru.
4.Keterbatasan biaya yang diperlukan untuk pendirian sebuah rumah gadang yang baru, karena pendirian sebuah rumah gadang memerlukan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.

Semakin meningkatnya jumlah penduduk, serta semakin besarnya angka permintaan akan sarana hunian dalam masyarakat merupakan salah satu alasan para pengembang perumahan dalam merencanakan kompleks-kompleks perumahan baru tersebut, yang dapat diwujudkan dalam waktu yang cepat dan dengan biaya yang tidak terlalu memberatkan kepada calon penghuninya. Maraknya bermunculan perumnas, KPR BTN dan lain sebagainya, dewasa ini merupakan jawaban atas semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan sarana hunian.

Tinjauan Terhadap Rumah Gadang
Rumah gadang merupakan rumah tradisonal yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai fasilitas hunian mereka. Disinilah semua aktifitas hidup dilakukan, mulai dari kegiatan keseharian sampai tempat untuk melangsungkan acara-acara adat dalam suku Minangkabau tersebut.

Sebuah Rumah Gadang bukanlah hanya merupakan suatu bangunan besar, panjang dan tinggi menjulang, tetapi adalah sebuah bangunan rumah adat yang bagian luar dan dalamnya mengandung arti dan makna tersendiri yang secara keseluruhan merupakan cerminan dari sistem kekerabatan matrilinial yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.

Terdapat beragam jenis dan macam dari rumah gadang yang terdapat pada daerah Sumatera Barat. Tetapi secara umum kita dapat menguraikan elemen dari rumah gadang tersebut. Elemen-elemen bangunan rumah gadang itu dapat kita bagi kedalam 2 bagian, yaitu:
1.Halaman.
Halaman suatu rumah gadang merupakan sebuah rumah terbuka yang sangat penting bagi suatu rumah gadang, biasanya sebuah halaman pada rumah gadang merupakan tempat untuk melangsungkan acara-acara yang penting pada sebuah kekerabatan.
Elemen-elemen yang terdapat pada sebuah halaman rumah gadang adalah:
•Rangkiang (lumbung padi)
Rangkiang merupakan suatu bangunan yang terdapat dihalaman sebuah rumah gadang yang berbentuk bujur sangkar dan diberi atap ijuk bergonjong yang berfungsi sebagai lumbung tempat penyimpanan padi yang didirikan di depan rumah gadang.
Menurut AA. Navis (1984) terdapat beberapa jenis rangkiang pada suatu rumah gadang, yaitu:
a.Sitinjau lauik
Rangkiang jenis ini merupakan rangkiang tempat penyimpanan padi yang akan dijual untuk membeli keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibuat atau dikerjakan sendiri.
b.Sibayau-bayau
Rangkiang jenis ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.
c.Si tangguang lapa
Merupakan jenis rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi yang akan dipergunakan sebagai cadangan pada masa paceklik tiba.
d.Rangkiang kaciak
Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi yang akan digunakan sebagai benih dan biaya pengerjaan penanaman sawah pada masa tanam berikutnya.
•Tabuah larangan
Merupakan sebuah bangunan berbentuk persegi panjang, beratap ijuk dan bergonjong untuk menempatkan bedug yang terbuat dari kayu panjang. Biasa digunakan sebagai alat untuk memberikan tanda pada saat bahaya atau pemberitahuan pada saat ada suatu acara.
•Lasuang dan alu
Sebuah bangunan kecil dengan atap biasa yang berfungsi sebagai tempat penempatan lesung dan alu yang digunakan sebagai alat untuk menumbuk padi.
•Dapur
Daerah servis pada rumah gadang yang biasanya juga merupakan bagian dari rumah, tetapi pada sebagian rumah gadang dapur biasanya terpisah dari rumah gadang.

2.Elemen bangunan
Elemen-elemen bangunan yang terdapat pada suatu rumah gadang adalah:
•Sandi
Merupakan pondasi yang terdapat pada sebuah rumah gadang yang berasal dari batu alam.
•Tangga
Tangga pada sebuah rumah gadang terbuat dari bahan material kayu dan biasanya diawali dengan sebuah batu alam yang datar, biasanya jumlah anak tangga ini berjumlah ganjil, seperti 5, 7 dan 9.
•Tiang
Ada berbagai nama dan jenis tiang pada suatu rumah, pemberian nama pada setiap tiang pada suatu rumah gadang tersebut disesuaikan dengan fungsi dan letaknya pada rumah gadang.
•Balok
Merupakan pengikat antara tiang dengan tiang pada suatu rumah gadang yang membujur pada bagian atas maupun pada bagian bawah tiang.
•Ruang
Ruang atau space pada suatu rumah gadang merupakan ruangan yang terbentuk oleh deretan tiang-tiang yang membujur didalam rumah gadang tersebut.
•Bilik
Bilik merupakan daerah privat bagi penghuni suatu rumah gadang, bilik pada pangkal rumah gadang dihuni oleh orang tua dan anak-anak gadis yang belum menikah sedangkal bilik yang terdapat pada ujung rumah gadang dihuni oleh pasangan pengantin.
•Dinding
Dinding pada rumah gadang terbagi atas tiga bagian, yaitu dinding depan, dinding sasak, serta dinding samping. Secara umum dinding pada rumah gadang tersebut terbuat dari anyaman bambu yang diikat oleh papan-papan sebagai tulangannya.
•Atap
Atap sebuah rumah gadang biasanya terdiri dari ijuk, walaupun masa-masa sekarang penggunaan bahan ijuk ini sudah marak diganti dengan penggunaan material seng.
•Gonjong
Gonjong merupakan ciri khas dari rumah tinggal tradisional masyarakat minangkabau, sehingga rumah tinggal masyarakat minangkabau ini juga dikenal dengan istilah rumah bagonjong.


Tinjauan Rumah Produksi Massal Pada Kompleks Perumahan Masyarakat

Dewasa ini, fenomena seperti gambar diatas tidak lagi merupakan sebuah pemandangan yang langka lagi pada daerah-daerah kita, hal ini dengan mudah dapat kita temukan hampir pada sebagian besar fasilitas hunian massal masyarakat Indonesia sekarang.
Maraknya muncul fenomena kompleks-kompleks hunian yang hadir ditengah-tengah kompleks pemukiman masyarakat yang secara sadar atau tidak telah menciptakan sebuah tipologi baru fasilitas hunian pada masyarakat kita saat ini.

Suburnya kompleks perumahan baru yang memiliki sebuah gerbang pada bagian depannya sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat kita dewasa ini. Apakah ini merupakan sebuah kemunduran atau malah sebuah terobosan baru dalam dunia hunian masyarakat kita tentu kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Pertanyaan sederhana yang timbul dalam melihat fenomena ini adalah apakah memang fasilitas hunian yang seperti ini yang dibutuhkan dan memang sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia? Tetapi kenyataan dilapangan, proyek-proyek perumahan tersebut tetap muncul dan merupakan sebuah proyek-poroyek yang sangat menguntungkan bagi kalangan pengembang perumahan akhir-akhir ini.
Ironis memang pada saat ruang-ruang komunal masyarakat berganti menjadi kompleks perumahan yang sangat sedikit sekali memberikan peluang bagi penghuninya untuk berkesempatan bersosialisasi dengan penduduk sekitarnya.

Pergeseran Dari Rumah Bagonjong Ke Rumah Mass Production
Sebuah fenomena menarik yang dapat kita lihat sekarang ini pada daerah-daerah di Minangkabau adalah semakin maraknya bermunculan kompleks perumahan-perumahan baru yang mengusung model minimalis ataupun meditaranian sebagai coraknya. Apakah ini merupakan jawaban atas semakin meningkatnya kebutuhan akan perumahan yang menyebabkan hilangnya sense of place atau memang sebuah indikasi bahwa tipologi rumah-rumah khas daerah tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan masyarakat.

Mass Production Sebagai Tipologi Baru Dalam Fenomena Hunian Masyarakat Minangkabau
Tidak jelas siapa yang memulai pertama kalinya pemakaian model-model minimalis dan meriteranian pada setiap kompleks-kompleks perumahan yang saat ini telah menyebar diseluruh Indonesia. Munculnya tipe-tipe dan model-model yang sama pada setiap daerah merupakan sebuah pandangan yang biasa terjadi. Keseragaman, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk mewakili fenomena hunian dewasa ini.

Sebuah hal yang dapat kita rasakan disini adalah hilangnya identitas lokal yang telah berganti menjadi menjadi identitas regional. Tidak ada lagi ciri khas kelokalan yang dapat kita jadikan sebagai penanda bagi kita untuk mengetahui lokasi dimana kita berada. Semuanya telah berubah menjadi sama, dimana-dimana kita dapat dengan mudah menemukan kompleks-kompleks perumahan yang bergaya arsitektur minimalis atau mediteranian dan itupun tidak memandang dimana lokasi kompleks lokasi perumahan tersebut berada, baik itu di Sumatera Barat, Jakarta ataupun kota-kota lainnya di Indonesia.


Identitas Lokal Vs Identitas Regional
Hilangnya identitas lokal, merupakan salah satu dampak yang diakibatkan oleh semakin maraknya bermunculan proyek-proyek perumahan baru yang banyak muncul diseluruh wilayah Indonesia. Seperti hal di Sumatera Barat, keeksistensian rumah gadang yang kaya akan nilai-nilai lokal telah mulai digantikan oleh model-model rumah minimalis dan mediteranian yang diproduksi secara massal.
Fenomena hunian masyarakat yang kaya akan ruang-ruang komunal, lambat laun telah mulai bergeser kepada pengkapling-kaplingan lahan yang setiap meternya merupakan hal yang sangat berharga dan harus dihargai dengan harga yang tinggi. Satu hal yang paling terasa disini adalah kompleks-kompleks perumahan baru telah menyebabkan hilangnya kesempatan bagi penghuninya untuk dapat bersosialisasi degan lingkungan sekitarnya. Suasana kehidupan yang semakin individualis sangat terasa sekali pada kompleks-kompleks perumahan baru tersebut.

Jika kita tinjau lebih lanjut lagi, tipologi dari model-model rumah yang menjadi produk unggulan para pengembang tersebut yaitu rumah dengan model-model minimalis dan mediteranian, yang wujudnya hampir sama disetiap daerahnya, atau malahan yang lebih ekstrim lagi yaitu munculnya nama-nama luar negeri dalam penamaan kompleks-kompleks perumahan tersebut.

Tidak sedikit kita jumpai, pemilik rumah yang merenovasi kembali rumah-rumah produksi massal tersebut menjadi rumah-rumah yang sesuai dengan tuntutan dan keinginan mereka, hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa ternyata rumah-rumah tersebut tidak sesuai dengan keinginan sipenghuninya. Satu hal yang dapat kita tangkap disini yaitu pihak pengembang sebenarnya tidak memahami lebih dalam lagi rumah seperti apa yang menjadi keinginan dari masyarakat yang akan menempatinya. Seakan-akan proyek perumahan tersebut merupakan jawaban instan atas semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan fasilitas hunian saja.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil dalam pembahasan ini adalah:
1.Maraknya bermunculan tipologi baru akan fasilitas hunian yang terdapat pada masyarakat Indonesia, Sumatera Barat khususnya, yang merupakan indikasi bahwa semakin meningkatnya kebutuhan akan perumahan pada masyarakat yang semakin bertambah dan berkembang.
2.Mass production seperti program perumnas dan KPR BTN hanya semata-mata berorientasi kepada faktor kuantitas saja, tanpa mempedulikan faktor kualitas dan nilai-nilai lokal yang terdapat pada masyarakat yang akan menempatinya.
3.Hilangnya identitas lokal yang telah berganti manjadi identitas regional merupakan salah satu dampak akan pembangunan sektor perumahan yang tidak tanggap terhadap lingkungannya.
4.Rumah-rumah yang diproduksi secara massal telah membawa masyarakat kedalam suatu dilema pemenuhan akan sarana hunian yang murah dan terjangkau dengan kehilangan akan nilai-nilai kehidupan didalam hidup bermasyarakatnya.
5.perencanaan sektor perumahan seharusnya memperhatikan tipologi-tipologi yang telah menjadi ciri khas pada masing-masing lokasi perencanaan perumahan tersebut.

Daftar Pustaka
Hatmoko, Adi Utomo dan Djokomono, Imam, Reinterpreting The Vernacular, 1999
Kumpulan Makalah Seminar URBAN RENEWAL Fakultas Teknik Universitas Atmajaya Yogyakarta, 1996
KKL Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang, 2006
Krier, Leon. Houses, Palaces, Cities, 1984
Navis, AA. Alam Takambang Jadi Guru. 1986
Rapoport, Amos. Human Aspects of Urban Form, 1997
Rossi, Aldo. The Architecture of The City, 1982
Schulz, C, Noberg, Architecture Meaning and Place. 1988
Zahnd, Markus, Perencanaan Kota Secara Terpadu, 2006

4 komentar on "Pergeseran T I P O L O G I Hunian Dalam Masyarakat"

jasa bangunan rumah said...

wah artikelnya sangat menarik, saya tunggu artikel anda berikutnya..

salam sukses

arsitek minimalis said...

blognya bagus, dan artikelnya menarik, terimakasih atas informasinya ya..
saya tunggu artikel berikutnya...

salam sukses

dial_thespider said...

terimakasih banyak mas atas commentnya, semoga kita bisa saling bertukar informasi dan sharing ilmu pengetahuan lebih banyak lagi disini

serta terimakasih juga atas supportnya :)

weldan said...

muanteb bgt thanks ya buat data buat bantu tugas kuliah., :)